Nasihat

Akal-Syahwat-Nafsu
Dalam diri Anda terhimpun akal dan budi malaikat, syahwat hewani dan hawa nafsu setani. Jika Anda mampu mengendalikan dan menguasai syahwat maupun hawa nafsu, Anda berkedudukan lebih tinggi daripada malaikat. Namun jika Anda dikuasai oleh syahwat dan hawa nafsu, Anda berkedudukan lebih rendah daripada hewan dan syaitan.
Bayangkan, anjing pemburu yang terdidik bahkan mampu menahan nafsu seleranya untuk tidak memakan hewan yang ditangkapnya. Dia mengharamkan bagi dirinya binatang tangkapan itu, kemudian ia serahkan kepada majikannya untuk dinikmati.

Bisikan, Pikiran, Nafsu Birahi, Kehendak, Maksiat dan Kebiasaan
Ulama besar, Ibnul Qayyim berkata :
“Pertahankanlah bisikan yang berdetak agar tetap di hatimu, kalau tidak hal itu akan berubah menjadi buah pikiran. Bila telah berubah, pertahankanlah semampumu agar ia tetap berada dalam pikiranmu. Dan kalau tidak mampu, ia akan menjadi nafsu birahi.
Kendalikan nafsu agar ia tertundukkan, dan jika tidak akan lahir rencana buruk dalam bentuk kehendak. Jagalah kehendak itu, karena kalau tidak dijaga niscaya akan menjadi perbuatan maksiat.
Kalau perbuatan maksiat tidak bisa dicegah, ia akan menjadi temanmu sebagai suatu kebiasaan dan adalah sulit bagi manusia meninggalkan suatu kebiasaan.”

Kita, Hawa Nafsu, dan Istiqomah
Serangan hawa nafsu terkadang terasa begitu kuat, berusaha mencerabut dan membetot kita, mengambil alih kendali diri, dan selanjutnya menyimpangkan kita dari jalan ketaatan. Jika sudah begitu kuat, panji-panji istiqomah yang kita pegang pun runtuh… menyisakan penyesalan dan kesesakan dada. Duhai, begitu kuat serbuannya.
Begitulah ketika hawa nafsu muncul, akan meluluh lantakkan kesehatan jiwa. Karena demikianlah hawa nafsu, selalu mengajak kita pada jalan-jalan kejelekan, dan menjauhkan kita dari jalan-jalan yang mengantarkan kita ke negeri kesejahteraan yang abadi, jannah-Nya, yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Padahal, memegang panji-panji istiqomah adalah sebuah keniscayaan. Dalam shahih Muslim, Abu Amr Sufyan bin Abdullah bercerita bahwa dia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu.” Bersabda Rasulullah: ‘Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah kamu.'”

Umar bin Khatab berkata tentang para shahabat. Menurut beliau, para shahabat beristiqomah demi Allah dalam mentaati Allah dan tidak sedikit pun mereka berpaling sekalipun seperti berpalingnya musang. Maksudnya, bahwa mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagaian besar ketaatan kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan sampai meninggalnya.

Begitulah mereka, sebaik-baik kurun yang telah mendapatkan keridhaan Allah. Sementara kita? lebih banyak meninggalkan perintah-perintahnya dan melanggar larangan-larangannya. Adalah Abu Hurairah, ketika beliau berada diambang kematian, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?”Beliau menjawab: “Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, bisa ke jannah, bisa juga ke Naar.”
Duhai, dimana posisi kita di antara mereka?

Utusan syahwat
“Janganlah mengikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (yang kedua), karena bagimu (keringanan) untuk pandangan pertama, namun tidak untuk pandangan yang kedua.” (HR.Ahmad dari Buraidah dari ayahnya).

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Sya’ir ini sangat populer di kalangan pecinta musik dan lagu. Sehingga penulis sempat ragu untuk mencantumkan sya’ir ini karena khawatir menimbulkan kesan latah dan ikut-ikutan. Akan tetapi secara substansi syair itu benar dan bahkan jauh sebelum muncul dari mulut mereka para ulama telah menyebutkannya. Toh, mutiara tetap saja mutiara meskipun keluar dari mulut anjing.
Antara mata dan hati terdapat pintu terbuka dan jalan penghubung antara keduanya. Apa yang dikonsumsi oleh mata, itu pula yang akan mendominasi hati. Bahkan masuknya pengaruh pandangan mata ke dalam hati melebihi kecepatan masuknya udara ke tempat yang kosong.
Jika yang dikonsumsi mata adalah sesuatu yang haram maka hati yang merupakan komandan seluruh jasad akan ternoda, dia tidak menyuruh kecuali yang haram.
Di antara ulama menggambarkan hubungan imbal balik antara mata dan hati dengan dialog imajiner yang terjadi antara keduanya. Mata berkata kepada hati: “Wahai hati, mengapa engkau menyuruhku melihat sesuatu yang haram?”
Hati mendebat mata dan berkata: “Itu gara-gara kamu juga, karena tadinya engkau melihat yang haram, sehingga mengotoriku, maka akupun menyuruh dengan sesuatu yang haram pula.”
Lalu datanglah anggota badan lain sebagai hakim dan berkata: “Kalian berdua ibarat dua orang, yang satu lumpuh namun bisa melihat dan yang satu buta tapi mampu berjalan. Ketika si lumpuh melihat buah yang menggiurkan sementara dia tak mampu meraihnya karena lumpuh, dia pun mengabarkan kepada si buta yang mampu berjalan. Lalu untuk mendapatkannya keduanya bekerja sama, kakinya menggunakan kaki si buta, sedangkan matanya menggunakan mata si lumpuh. Setelah itu keduanya sama-sama merasakan lezatnya buah tersebut.
Hati dan mata, keduanya seperti dua lampu yang dipasang paralel. Jika satu tombol dipencet yang lain ikut menyala. Jika salah satu melakukan aktivitas maka yang lain akn terkena imbasnya.

Siklus Dosa Berawal dari Mata
Apa yang dikonsumsi mata, pengaruhnya terus mengalir mengikuti siklusnya. Tak akan berhenti pada satu titik saja, bahkan tak cukup hanya sekali putaran dia mempengaruhi aktivitas jasad seluruhnya. Seluruh dosa bisa bermula dari mata, meluapnya syahwat dari bendungannya paling sering berawal darinya juga.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa ‘pandangan mata adalah juru pengintai syahwat dan utusannya.’ Pasalnya, dialah yang bertugas mencari mangsa, dia pula yang pertama mencicipinya dan dia pula yang akan menyalurkannya kepada hati sebagai panglimanya, selanjutnya hati yang akan membagikannya kepada seluruh anggota badan sebagai pasukannya.
Tentang bagaimana siklus dosa mengalir, terutama dosa zina dijelaskan dengan sangat apik oleh Ibnul Qayyim di dalam bukunya Al-Jawabul Kafi.
Pertama, bermula dari pandangan. Khususnya jika obyek yang dipandang adalah wanita (jika yang memandang laki-laki), atau sebaliknya, bisa juga berupa gambar atau film. Dari pandangan ini, hampir pasti meninggalkan bekasnya, seberapapun kadarnya.
Kedua, siklus akan beralih dari pandangan menuju lintasan hati. Hati merekam apa yang dilihatnya, wajahnya, auratnya dan apapun yang berkesan setelah pandangan mendarat pada sasarannya. Pada terminal ini, teramat sulit untuk membendung bola salju yang telah menggelinding, hingga sampailah ia pada siklus berikutnya yang lebih akut.
Ketiga, dari lintasan hati akan melahirkan pikiran. Indahnya obyek pandangan senantiasa terbayang di benaknya hingga hati sibuk memikirkanya. Diapun berangan: ‘Seandainya saja…’, ‘Mungkinkah jika aku…’, ‘Bagaimana caranya…’ dan angan-angan lain yang menyibukkan sebagian aktivitas pikiran dan hatinya. Bayang-bayang itu pula yang memenuhi rongga hati dan otaknya.
Keempat, Di saat akal sibuk memikirkannya, hati antusias untuk membayangkannya, secara otomatis, siklus berikutnya telah dimasuki, yakni hadirnya syahwat. Ya, serta merta syahwat akan hadir di saat orang membayangkan wanita telanjang, atau berfikir seandainya yang menjadi aktor dalam film porno yang dilihatnya itu adalah dirinya. Pada titik ini, nasib imannya sudah berada di ujung tanduk, benteng pertahanannya sudah nyaris ambruk. Karena ia memasuki fase yang lebih berbahaya.
Kelima, Hadirnya syahwat akan melahirkan ‘iradah’, kemauan untuk melampiaskannya. Jika dia telah membayangkan orang berzina, niscaya timbul kemauan dia untuk melakukannya.
Siklus keenam, jika iradah semakin menguat maka terciptalah ‘azimah jazimah’, tekad yang kuat atau gejolak nafsu yang membara. Dan jika tekad telah bulat, perbuatan zina akan sulit untuk dibendung. Siklus ini sulit dihentikan bila terlanjur berputar. Tak heran jika kebanyakan orang melakukan pemerkosaan bermula dari menonton film porno. Dan umumnya tidak puas berhenti di satu titik sebelum dia bertaubat nashuha atau dihentikan sanksi yang akan disandangnya.

Musibah dalam Tayangan dan Media Masa
Media yang mestinya berfungsi sebagai sumber informasi rupanya telah berubah menjadi penyebar virus. Media menjadi pemberi kontribusi terbesar terhadap gejolak birahi secara massal, tak pandang usia, status sosial maupun tingkat ekonomi. Orang yang ingin mendapatkan ‘sedikit’ manfaat darinya pun akhirnya harus ‘rela’ mentolelir iklan yang saru dan tabu misalnya.
Tidak tanggung-tanggung, 24 jam penuh tayangan TV dapat disaksikan. Tanpa menafikan adanya manfaat yang disuguhkan. Namun yang pasti kapanpun orang ingin melihat yang haram diapun dapat memilih channel-nya. Maka jika banyak generasi pemerkosa, atau banyaknya gadis yang hilang kehormatannya, mestinya para penanggung jawab acara-acara di TV itu turut bertanggung jawab.
Tak kalah noraknya dengan acara-acara di TV, koran dan tabloid-tabloid jalanan berkeliaran lengkap dengan wanita yang menjajakan kehormatannya. Di pinggir jalan, siapapun bisa memelototinya atau jika punya uang bisa membelinya.

Solusi Syar’i
Melihat begitu besarnya pengaruh pandangan mata, sementara setan-setan menebarkan sasaran di setiap sudut dan lokasi yang paling strategis, kesabaran untuk menahan pandangan lebih dituntut. Janganlah kita terlalu percaya diri mengumbar pandangan, atau meremehkan pandangan terhadap obyek yang haram lalu menyangka tak terjadi akibat apa-apa. Karena bertahan untuk tidak melihat yang haram betapapun beratnya, itu masih lebih ringan daripada membendung pengaruh setelah melihatnya. Untuk itulah di antara salaf berkata: ‘ash-shabru ‘ala ghadhil bashar aisar minash shabri ‘ala alamin ba’dahu’, bersabar untuk menahan pandangan lebih mudah dari pada bersabar atas akibat setelah melihatnya.”
Syari’at memberikan solusi dari tindak perzinahan dan pemerkosaan sampai ke akarnya, memotong jalan mulai dari start-nya. Allah berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya..” (an-Nuur: 30)
Dan firman-Nya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya..” (an-Nuur: 31)
Imam Al-Qurthubi menyebutkan di dalam tafsirnya: “(Kedua) ayat tersebut tidak menyebutkan menahan pandangan dari apa dan menjaga kemaluannya dari apa, karena otomatis telah dimaklumi, yakni menjaganya dari yang haram, bukan yang halal.”
Nabi . bersabda:
“Janganlah mengikuti pandangan (pertama) dengan pandangan yang kedua, karena bagimu (keringanan) untuk pandangan pertama, namun tidak untuk pandangan yang kedua.” (HR Ahmad, diriwayatkan juga oleh Muslim dan At-Tirmidzi dengan redaksi yang hampir sama)
Pandangan pertama yang dimaksud adalah pandangan yang tidak disengaja mengarahkannya. Nabi pernah ditanya tentang pandangan tiba-tiba yang tidak disengaja beliau perintahkan untuk memalingkan pandangannya. Termasuk di sini laki-laki memandang wanita yang bukan istri dan bukan pula mahramnya. Karena Nabi pernah memalingkan wajah seorang sahabat yang ketahuan melihat seorang wanita, meskipun wanita tersebut berbusana lengkap. Lantas bagaimana halnya dengan memandang wanita yang telanjang atau nyaris telanjang?
Di samping menahan pandangan, mencegah kemungkaran adalah kewajiban mendesak yang harus segera kita tunaikan dalam urusan ini. Bagaimana kita hendak menahan pandangan sementara kita biarkan setan-setan membuka paksa mata kita dan membanjirinya dengan berjubel pemandangan yang haram?
Nabi bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)

Empat Larangan
Waspadalah terhadap empat macam keburukan: sombong, dengki, marah (emosi) dan syahwat yang tidak terkendali.
Angkuh dan sombong mencegah orang untuk mematuhi dan mentaati perintah dan larangan syariat.
Hasud (dengki) mencegah orang untuk menerima nasihat atau memberi nasihat.
Marah (emosi) mencegah orang untuk berbuat adil.
Mengikuti nafsu syahwat dapat mencegah orang menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sepuluh Pekerti Tercela
Sifat yang dapat merusak dan manghancurkan diri kita
“Sepuluh jenis pekerti tercela selalu membayangi hidup manusia,” kata Syekh Sihabuddin al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir. “Yaitu :
– asysyarah (rakus), akibat tidak mampu membendung syahwat perut;
– as-syabq (tak terjaga), akibat mengumbar nafsu seks;
– al-bath (penyalahgunaan kenikmatan);
– al-jaza’ (tidak pasrah terhadap musibah);
– al-jubun (pengecut);
– al-humq (pemarah);
– adh-dhajar (pencemas);
– al-khurq (tak dapat memegang rahasia);
– al-hirs (tamak); dan
– ath-thaisy (gegabah).”

Bagaimana hijab dapat menjadi hijab mental?
Hijab mental adalah hendaknya wanita tidak memikirkan pemikiran seksual yang menyimpang, melalui bayangan-bayangan dan fantasi-fantasi yang dirasakannya.
Itu adalah hijab yang harus juga dipegang oleh laki-laki, yakni bahwa dia tidak boleh mengikuti bayangan-bayangan dan fantasi-fantasi seksualnya, atau penyimpangan-penyimpangan yang menyerupai itu, karena pemikiran manusia mencerminkan realitasnya. Setiap orang yang merasakan pemikiran yang menyimpang, maka penyimpangan tersebut berpotensi besar untuk dipraktekkan. Inilah yang kita perhatikan da1am firman-Nya SWT, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri. ” (QS. ar-R’ad: 11) Ini menunjukkan bahwa realitas internal manusia akan menyiapkan kerangka bangunan realitas eksternalnya. Apabila fenomena internalnya baik, maka refleksi kebaikan itu akan terwujud dalam fenomena eksternal, dan sebaliknya.

Keluhan Burung Bulbul
Burung Bulbul adalah seekor burung yang hampir gila karena gairah nafsunya yang membara. Perasaanya dituangkan dalam ribuan nada dan nyayian. dan setiap nada mengandung rahasia-rahasia cinta.
“Rahasia-rahasia cinta tidak asing lagi bagiku” katanya.Aku selalu mengajarkan nyanyian-nyanyian baru dan selalu pula mengulang duka yang baru. Bila aku terpisah dari mawarku maka hidup akan terasa sunyi. Aku tidak dapat lagi bernyanyi. Dan tak akan kubisikkan rahasiaku kepada siapapun.
Hanya mawar yang mengerti perasaan cintaku. Cintaku pada mawar sangat dalam sehingga aku tak sempat memikirkan diriku sendiri. Hidupku disibukkan oleh mawar yang kelopaknya bercabang bagaikan kerang.

Nasihat Burung HudHud kepada burung BulBul
“Wahai burung BulBul, engkau telah disilaukan oleh bentuk lahir segala sesuatu, Berhentilah menikmati ketergantungan yang menyesatkan. “Cinta mawar itu berduri, Mengusik. dan menguasai dirimu. Meskipun mawar sangat jelita namun keindahanya fana. Barangsiapa yang mencari kesempurnaan diri, janganlah diperbudak oleh cinta yang cepat berlalu. Jika senyuman mawar itu membangkitkan birahimu, itu hanya memenuhi hari dan malammu dengan ratapan dan kesedihan.
Tinggalkanlah mawar dan malulah terhadap dirimu sendiri. Di setiap awal musim semi ia mentertawakanmu dan kemudian layu tak lagi mau tersenyum padamu.

Doa untuk Kekasih…
Allah yang Maha Pemurah…
Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.
Terima kasih untuk saat-saat indah
yang dapat kami nikmati bersama.
Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang dapat kami lalui bersama.
kami datang bersujud dihadapanMU…
Sucikan hati kami ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup kami
Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya…
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya…
Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni…
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.
Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya…
ya Allah tolong satukan hati kami…
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya…
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya…
Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan…
Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia…
Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini…
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU…
Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya…
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.
Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU…
Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan….
Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang menjadi dalam setiap bagian hidup saya… Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.
Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s